Maknai Hari Suci Galungan Sebagai Kemenangan Berpikir Budaya

Maknai Hari Suci Galungan Sebagai Kemenangan Berpikir Budaya



   PERSINDO -  Umat Hindu, perayaan Hari Raya Galungan adalah prosesi mempersiapkan persembahan sebagai wujud bersyukur atas kemenangan nilai-nilai kebaikan melawan keburukan yang disebut Hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

   Menurut pandangan Agung Widiada selaku Anggota Dewan Kota Partai NasDem, Hari Kemenangan Dharma yang dirayakan setiap enam bulan sekali, yakni Hari Rabu Wuku Dungulan ini telah menjadi tradisi dinamika upakara dan upacara persembahan Umat Hindu. Perayaan ini diawali dengan sujud bakti dihadapan leluhur di Pemerajan,dilanjutkan ke Pura Kayangan Tiga dan Kayangan Jagat. Ini merupakan wujud bakti kehadapan Ida Sanghyang Widi atau Tuhan Hyang Maha Esa serta mensyukuri atas kemenangan dharma.

   Dikatakan, tuntunan kehidupan Umat Hindu yang dilandasi dharma dalam pencapian kehidupan, harus tetap menjadi Renungan dalam menjawab tantantangan jaman. Maka dalam gejolak kehidupan kekinian sebagai umat, lebih-lebih yang dipercaya sebagai pemimpin atau tokoh masyarakat, elite pemerintahan dan politik harus mampu melakukan olah pikir dan olah batin dalam memaknai hari kemenangan dalam situasi dan kodisi sosial yang terjadi. “Sehingga pemimpin mampu memiliki nilai lebih yang menjadi  keteladanan dalam berpikir, berkata dan berbuat,” ucapnya.

   Karena itu, pemimpin di dalam mengaktualisasi diri dituntut mampu berpikir budaya, yaitu dituntut harus mampu memberdayakan nilai-nilai kearifan yang terus tumbuh dengan sepirit dan energi untuk meraih pencerahan. “Ini guna memperkokoh kesadaran akan  sistem nilai yang kita miliki untuk menjadi pedoman berpikir pencapian tujuan hidup kita adalah dengan landasan dharma , artha , kama , moksa,” katanya .

   Lebih lanjut dikatakan, untuk bergerak menuju kegemilangan yang melahirkan Kebudayaan tangguh, mampu membawa masyarakatnya menuju kehidupan bermutu , makmur dan berkeadaban sebagai makna kemenangan dalam cita- cita kemenangan dharma adalah tantangan pergulatan berpikir.  “Budaya di tengah modernisasi yang terjadi mempengaruhi nilai-nilai kearifan yang kita miliki di tengah ketamakan prilaku dan kuasa yang kita rasakan, kehilangan rasa malu dan menindas rasa keadilan masyarakat. Ini pula tantangan besar bila kita melakukan penyadaran diri akan arti restorasi dan revolusi mental. Sejatinya itulah pergulatan yang harus kita menangkan dalam memaknai kemenangan Hari suci Galungan,” terangnya .

   Menurutnya, bila mampu memenangkan dalam berpikir budaya  kita akan tetap kokoh dengan semangat gotong royong , guyub dan toleransi yang kuat, mandiri dan berkeadilan. “Nilai nilai ini akan menjadi  etick kehidupan yang melahirkan kesantunan, sehingga kita kokoh dalam kehidupan sosial dengan saling menghormati dan menghargai antar sesama,” pungkasnya.***

Pers Indonesia